Belajar Goblok Dari Bob Sadiono
penulis :dodi mawardi
penerbit: kitamani publishing
Jurus menjadi pengusaha sukses tanpa banyak teori dan pendidikan formal
Untuk menjadi seorang pengusaha sukses, seseorang tidak perlu menghabiskan waktunya untuk belajardi sekolah formal selama bertahun-tahun. Menurut Bob Sadino,yang dibutuhkan oleh seorang pengusaha tangguh adalah sebuah tindakan nyata untuk memulai bisnis dan kemudian belajar dari setiap proses kehidupan yang dilaluinya.
Ia menambahkan bahwa sekolah formal justru menjadi
penghambat terbesar seseorang untuk terjun berwirausaha karena yang diajarkan
di sekolah formal adalah informasi yang sudah basi dan tidak sesuai dengan
realita yang ada. Bob Sadino juga menjelaskan dua alasan utama yang membuat
orang pintar sulit menjadi seorang pengusaha sukses.
Alasan pertama, orang pintar dan berpendidikan cenderung
terbelenggu oleh rasa takut yang muncul dari pikirannya sendiri. Dan kedua,
orang pintar terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan banyak hal saat akan
berwirausaha sehingga tidak kunjung untuk memulainya.
Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari antara lain:
• apa kelebihan
“sekolah jalanan” dibanding sekolah formal,
• kenapa sebaiknya
Anda tidak berbisnis dengan anggota keluarga,
• bagaimana Bob
Sadino menjalankan bisnis tanpa perencanaan,
• kenapa analisis
potensi pasar tidak diperlukan, dan
• apa alasan Bob
Sadino tidak mau memiliki impian.
Untuk menjadi
pengusaha sukses, yang dibutuhkan adalah aksi dan konsistensi, bukan sekolah
tinggi
Berawal karena kesebalannya pada atasan, Bob Sadino
memutuskan untuk berhenti bekerja di Eropa dan memutuskan untuk kembali ke
Indonesia. Bermodalkan dua mobil sedan Mercedez yang didapatnya selama bekerja
di Eropa, Bob bersama istrinya memulai kehidupan baru di Indonesia.
Satu mobil dijual dan dibelikan tanah di kawasan Kemang
sedangkan satunya lagi dijadikan taksi dan kadang disewakan. Tidak sampai satu
tahun, mobil itu mengalami kecelakaan dan Bob pun terpaksa menjadi kuli
bangunan untuk menyambung hidupnya.
Hidup mereka mulai berubah ketika Bob memutuskan untuk
berwirausaha dengan beternak ayam broiler yang ia peroleh dari temannya di
Belanda. Bob pun lalu mempelajari ilmu beternak ayam secara otodidak melalui
berbagai sumber, salah satunya melalui majalah yang didatangkan langsung dari
Belanda. Tidak butuh waktu lama, Bob langsung menjadi pakar dalam
bidang peternakan ayam ini dan juga menjadi penyedia telur dan daging ayam
negeri pertama di Indonesia.
Tidak hanya sebagai produsen, Bob dan istrinya pun juga
menjual telur broiler hasil produksi mereka itu secara langsung kepada
pelanggan dari rumah ke rumah. Menjual produk baru ternyata tidaklah mudah. Di
tahap awal, mereka mendapatkan banyak penolakan dari para pelanggan.
Namun berbekal keyakinan, kegigihan, kerja keras dan juga
konsistensi akhirnya telur yang mereka jual mulai diterima pembeli.Bisnis telur
ayam Bob ini pun mulai dikenal dan ia pun tidak perlu mencari-cari pembeli
lagi, melainkan pembeli yang mencari-carinya. Mau memulai, konsisten dan terus belajar adalah kunci sukses
Bob Sadino dalam merintis bisnisnya. Ia tidak terlalu banyak berpikir dalam
memulai bisnisnya. Ia juga terus berjuang dan belajar agar bisnisnya bisa
berjalan dan berkembang. Salah satu faktor utama kesuksesannya adalah ia banyak belajar
dari “jalanan”, bukan dari sekolah formal. Menurutnya, belajar di sekolah
formal hanya mengajarkan kita untuk tahu. Sementara “sekolah jalanan”
mengajarkan kita untuk bisa.
“Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan.
Melangkah lagi. Betemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang
saya lompati. Melangkah lagi. Berjumpa api saya mundur. Melangkah lagi.
Berjalan terus dan mengatasi masalah.”
Bob Sadino
Manajemen bisnis itu
tidak harus kaku dan tidak harus sesuai dengan teori di buku
Bukan Bob Sadino namanya jika tidak “aneh”
dan “nyeleneh”. Itu pula yang ia lakukan dalam mengelola bisnisnya. Bob
menerapkan manajemen bisnis yang sangat unik, aneh dan juga “dianggap” gila. Manajemen ini sangatlah berbeda dibandingkan dengan teori manajeman yang
diajarkan para pakar melalui buku-buku mereka.
Jika perencanaan
merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam manajemen modern, Bob malah
melakukan hal sebaliknya. Ia tidak memiliki perencanaan yang tertulis di atas
kertas. Apa yang akan dilakukan semuanya di kepala saja dan bisa berubah sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada. Hal ini juga berlaku
pada unsur manajemen lainnya seperti pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan,
dan evaluasi. Bob menyusun organisasi bisnisnya secara sederhana dan tidak
mengikuti teori dalam buku manajemen yang ada.
Dalam tahap
pelaksanaan, Bob mengisyaratkan semua orang agar dapat melakukan pekerjaan
apapun diluar tugasnya masing-masing dengan tujuan untuk menciptakan kepedulian
terhadap perusahaan. Dalam hal pengawasan,
Bob pun melakukan hal yang berbeda. Ia tidak segan turun langsung ke bawah
untuk berinteraksi dan berbaur bersama para bawahan. Ini membuat para karyawan
tidak merasa diawasi, namun terbantu. Hal unik lainnya yang
diterapkan Bob adalah manajemen kekeluargaan tanpa hubungan darah. Dalam
manajemen perusahaan ala Bob, tidak seorang pun yang memiliki ikatan darah
dengannya. Bahkan, ia melarang
keluarganya untuk terlibat dalam manajemen perusahaan. Hal ini ia lakukan agar
tidak menimbulkan keretakan dan permusuhan diantara sesama anggota keluarga
seperti yang terjadi pada perusahaan keluarga pada umumnya.
Sebagai gantinya, ia
menganggap semua bawahannya sebagai anak dan memperlakukan mereka seperti
keluarga sendiri. Hal ini yang membuat para karyawan betah bekerja di
perusahaannya. Tidak hanya itu,
dalam penerimaan pegawai, Bob pun tidak melakukan seleksi sesuai dengan
prosedur dan sistem profesional yang ada. Ia tidak memilih pegawai berdasarkan
latar belakang pendidikan maupun pengalaman. Ia memilih pegawai hanya dengan dua
syarat; mau belajar dan mau bekerja. Walaupun demikian,
perusahaannya terus berkembang sampai saat ini. Begitu juga dengan promosi
jabatan. Ia melakukannya secara terbuka. Karyawannya sendirilah yang
menentukan. Semua keputusan dan
apapun yang terjadi dalam perusahaan ia percayakan sepenuhnya kepada para
karyawannya. Bahkan, ketika karyawannya membuat keputusan yang salah dan
merugikan perusahaan dalam jumlah yang cukup besar, Bob sama sekali tidak
menyalahkan mereka. Inilah uniknya manajemen perusahaan ala Bob Sadino.
Seorang pengusaha
harus memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda
Untuk mencapai
sesuatu, kita harus bekerja keras. Itulah pendapat para pakar, pengusaha dan
konsultan. Namun, Bob sadino memiliki pandangan berbeda terkait pernyataan ini.
Baginya tidak ada kata “kerja keras” maupun “kerja cerdas”. Yang ada hanyalah
menikmati pekerjaan. Menurutnya, kerja
keras terkesan terpaksa dan penuh tekanan. Seorang pengusaha sejatinya tidak
boleh merasa tertekan dalam setiap aktivitasnya. Salah satu caranya adalah
dengan cara menikmatinya.
Pemikiran unik Bob
Sadino lainnya adalah terkait masalah pasar. Banyak pakar berpendapat bahwa
sebelum mulai berbisnis seorang pebisnis harus mencari dan menganalisis potensi
pasarnya terlebih dahulu. Namun menurut Bob, pasar itu diciptakan, bukan dicari.
Menciptakan pasar menjadikan perusahaan sebagai market leader (pemimpin pasar)
bukan market follower (pengikut pasar). Lebih lanjut ia
menjelaskan ada tiga langkah untuk menciptakan pasar, yaitu:
· Jadilah yang pertama
· Jadilah yang berbeda
· Jadilah yang terbaik
Pandangan berbeda
lainnya dari Bob Sadino adalah tentang masalah bermitra dalam bisnis. Banyak
pakar dan pengusaha yang mengatakan bahwa sekarang adalah era kolaboratif.
Bekerja sama dengan orang lain akan membuat bisnis Anda lebih cepat bertumbuh
dan berkembang. Tapi tidak begitu
dengan Bob Sadino. Ia malah berpikiran bahwa bermitra dalam bisnis adalah
sebuah bencana. Ujung-ujungnya pecah kongsi dan akanberjalan sendiri-sendiri.
Hal ini ia sampaikan karena sebelumnya dia sudah pernah mengalaminya.
Pemikiran yang paling
berbeda dan “dianggap” paling kontroversial dari seorang Bob Sadino adalah
tentang sekolah. Bagi Bob Sadino; sekolah=racun. Ia menyampaikan pernyataan
tersebut terkait konteks wirausaha. Menurutnya, sekolah
menjadi penghambat seseorang untuk terjun menjadi seorang pengusaha. Sekolah
membuat seseorang tidak berani bertindak bebas dan melakukan sesuatu. Sekolah
membuat seseorang terlalu banyak berpikir dan berhitung namun tidak kunjung
memulai karena bingung. “Apakah Anda sudah
menikmati apa yang dilakukan selama ini? Kalau belum, berarti Anda hanya
bekerja keras. Segera cari bidang lain yang Anda nikmati sehingga tidak perlu
lagi mendapatkan cap pekerja keras, melainkan penikmat pekerjaan!”
Bob Sadino
Berbisnislah tanpa
tujuan, rencana dan harapan
Masih banyak
pemikiran aneh lainnya yang ada pada diri Bob Sadino terkait bisnis. Salah
satunya ialah memilih untuk tidak mempunyai tujuan dalam berbisnis dan
membiarkan bisnisnya berjalan seperti air yang mengalir. Tentu hal ini
merupakan suatu hal yang tidak masuk akal, bahkan bagi orang awam sekalipun.
Namun begitulah Bob Sadino.
Ia mengatakan bahwa
keberadaan tujuan hanya akan membelenggu orang pada satu titik saja dan tidak
berusaha untuk mendapatkan hasil yang melebihi titik tersebut. Padahal setiap
orang sangat berpotensi untuk memperoleh hasil lebih dari titik tersebut.
Pandangan Bob sadino
yang kontroversial lainnya adalah tentang rencana. Menurutnya, rencana adalah
bencana. Oleh karena itu, dia tidak memiliki rencana dalam bisnisnya karena
baginya hidup ini sudah terencana dengan Tuhan sebagai Master Planner-nya. Ia
berpendapat bahwa rencana itu linear, sementara hidup itu lateral. Sebagian
besar orang mungkin tidak akan setuju dengan pendapat semacam itu.
Bob Sadino juga tidak
memiliki mimpi dan harapan. Menurutnya, sebagian besar harapan tidak pernah
terwujud, jadi tidak perlu berharap. Selain itu, berharap juga akan membuat
orang kecewa dan menutup pilihan lain dalam memotivasi diri untuk menggapai
sesuatu. Bagi para pengusaha
Bob Sadino memberikan beberapa pesan bisnis. Pertama, bisnis itu
tidak harus bermodalkan uang, namun modal intangible lebih penting . Apa saja
modal intangible itu? Kemauan, komitmen, berani mengambil peluang, tahan
banting dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, kosongkan diri
sebelum belajar. Posisikan diri seperti sebuah gelas kosong yang siap menerima
ilmu dari orang lain. Ketiga, jangan pernah
pelit dalam berbagi ilmu. Dan keempat, carilah kegagalan sebanyak-banyaknya.
Dibalik setiap
keanehan, terdapat pelajaran
Selama hidup, Bob
sadino dikenal sebagai seorang pengusaha yang penuh keanehan. Mulai dari
penampilan, perkataan dan juga pemikirannya. Dari segi penampilan, Bob sangat
identik dengan kemeja putih dan juga celana jeans pendek. Pakaian ini digunakan
tidak hanya ketika acara informal tetapi juga formal. Ia pernah mengenakan
pakaian ini ketika bertemu dengan beberapa Presiden Indonesia yaitu Soeharto,
BJ Habibie, Megawati dan terakhir dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun
dibalik itu, ia menjelaskan bahwa celana pendek itu ia pakai untuk mensyukuri
nikmat Tuhan berupa sinar matahari. Walaupun dikenal
dengan perkataan yang ceplas ceplos dan terkesan kasar, namun ternyata Bob
sadino adalah pribadi yang penyayang dan juga rendah hati. Sifat ini
ditunjukkannya dalam kehidupan berkeluarga. Baginya, keluarga adalah segalanya.
Ia sangat menjaga hubungannya dengan istri dan anak-anaknya.
Menurutnya, masalah
dalam keluarga juga akan berdampak kepada urusan lain, termasuk bisnis. Jadi,
dia sangat menjaga keharmonisan dalam keluarga. Ia pun menghargai
setiap pendapat dalam keluarga. Ia tidak memaksakan pendapatnya kepada istri
dan anak-anaknya. Bahkan, ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk
memilih dan memutuskan kehidupan mereka masing-masing. Ia hanya bertindak
sebagai fasilitator saja. Selebihnya, mereka yang menentukan. Demikianlah pemikiran
dan tindakan Bob Sadino yang cenderung kontroversial, nyeleneh, serta keluar
dari standar “kenormalan”. Ada banyak hal yang bisa ditiru oleh para pelaku
bisnis lainnya, namun ada pula hal-hal yang cukup menjadi pengetahuan Anda.
Ia menambahkan bahwa sekolah formal justru menjadi penghambat terbesar seseorang untuk terjun berwirausaha karena yang diajarkan di sekolah formal adalah informasi yang sudah basi dan tidak sesuai dengan realita yang ada. Bob Sadino juga menjelaskan dua alasan utama yang membuat orang pintar sulit menjadi seorang pengusaha sukses.
Alasan pertama, orang pintar dan berpendidikan cenderung terbelenggu oleh rasa takut yang muncul dari pikirannya sendiri. Dan kedua, orang pintar terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan banyak hal saat akan berwirausaha sehingga tidak kunjung untuk memulainya.
• kenapa sebaiknya
Anda tidak berbisnis dengan anggota keluarga,
• bagaimana Bob
Sadino menjalankan bisnis tanpa perencanaan,
• kenapa analisis
potensi pasar tidak diperlukan, dan
• apa alasan Bob Sadino tidak mau memiliki impian.
Untuk menjadi pengusaha sukses, yang dibutuhkan adalah aksi dan konsistensi, bukan sekolah tinggi
Berawal karena kesebalannya pada atasan, Bob Sadino
memutuskan untuk berhenti bekerja di Eropa dan memutuskan untuk kembali ke
Indonesia. Bermodalkan dua mobil sedan Mercedez yang didapatnya selama bekerja
di Eropa, Bob bersama istrinya memulai kehidupan baru di Indonesia.
Satu mobil dijual dan dibelikan tanah di kawasan Kemang sedangkan satunya lagi dijadikan taksi dan kadang disewakan. Tidak sampai satu tahun, mobil itu mengalami kecelakaan dan Bob pun terpaksa menjadi kuli bangunan untuk menyambung hidupnya.
Hidup mereka mulai berubah ketika Bob memutuskan untuk
berwirausaha dengan beternak ayam broiler yang ia peroleh dari temannya di
Belanda. Bob pun lalu mempelajari ilmu beternak ayam secara otodidak melalui
berbagai sumber, salah satunya melalui majalah yang didatangkan langsung dari
Belanda.
Tidak hanya sebagai produsen, Bob dan istrinya pun juga menjual telur broiler hasil produksi mereka itu secara langsung kepada pelanggan dari rumah ke rumah. Menjual produk baru ternyata tidaklah mudah. Di tahap awal, mereka mendapatkan banyak penolakan dari para pelanggan.
Namun berbekal keyakinan, kegigihan, kerja keras dan juga
konsistensi akhirnya telur yang mereka jual mulai diterima pembeli.Bisnis telur
ayam Bob ini pun mulai dikenal dan ia pun tidak perlu mencari-cari pembeli
lagi, melainkan pembeli yang mencari-carinya.
“Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Betemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi. Berjumpa api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus dan mengatasi masalah.”
Manajemen bisnis itu tidak harus kaku dan tidak harus sesuai dengan teori di buku
Bukan Bob Sadino namanya jika tidak “aneh” dan “nyeleneh”. Itu pula yang ia lakukan dalam mengelola bisnisnya. Bob menerapkan manajemen bisnis yang sangat unik, aneh dan juga “dianggap” gila. Manajemen ini sangatlah berbeda dibandingkan dengan teori manajeman yang diajarkan para pakar melalui buku-buku mereka.
Jika perencanaan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam manajemen modern, Bob malah melakukan hal sebaliknya. Ia tidak memiliki perencanaan yang tertulis di atas kertas. Apa yang akan dilakukan semuanya di kepala saja dan bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Hal ini juga berlaku pada unsur manajemen lainnya seperti pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Bob menyusun organisasi bisnisnya secara sederhana dan tidak mengikuti teori dalam buku manajemen yang ada.
Dalam tahap pelaksanaan, Bob mengisyaratkan semua orang agar dapat melakukan pekerjaan apapun diluar tugasnya masing-masing dengan tujuan untuk menciptakan kepedulian terhadap perusahaan. Dalam hal pengawasan, Bob pun melakukan hal yang berbeda. Ia tidak segan turun langsung ke bawah untuk berinteraksi dan berbaur bersama para bawahan. Ini membuat para karyawan tidak merasa diawasi, namun terbantu. Hal unik lainnya yang diterapkan Bob adalah manajemen kekeluargaan tanpa hubungan darah. Dalam manajemen perusahaan ala Bob, tidak seorang pun yang memiliki ikatan darah dengannya. Bahkan, ia melarang keluarganya untuk terlibat dalam manajemen perusahaan. Hal ini ia lakukan agar tidak menimbulkan keretakan dan permusuhan diantara sesama anggota keluarga seperti yang terjadi pada perusahaan keluarga pada umumnya.
Sebagai gantinya, ia menganggap semua bawahannya sebagai anak dan memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Hal ini yang membuat para karyawan betah bekerja di perusahaannya. Tidak hanya itu, dalam penerimaan pegawai, Bob pun tidak melakukan seleksi sesuai dengan prosedur dan sistem profesional yang ada. Ia tidak memilih pegawai berdasarkan latar belakang pendidikan maupun pengalaman. Ia memilih pegawai hanya dengan dua syarat; mau belajar dan mau bekerja. Walaupun demikian, perusahaannya terus berkembang sampai saat ini. Begitu juga dengan promosi jabatan. Ia melakukannya secara terbuka. Karyawannya sendirilah yang menentukan. Semua keputusan dan apapun yang terjadi dalam perusahaan ia percayakan sepenuhnya kepada para karyawannya. Bahkan, ketika karyawannya membuat keputusan yang salah dan merugikan perusahaan dalam jumlah yang cukup besar, Bob sama sekali tidak menyalahkan mereka. Inilah uniknya manajemen perusahaan ala Bob Sadino.
Seorang pengusaha harus memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda
Untuk mencapai sesuatu, kita harus bekerja keras. Itulah pendapat para pakar, pengusaha dan konsultan. Namun, Bob sadino memiliki pandangan berbeda terkait pernyataan ini. Baginya tidak ada kata “kerja keras” maupun “kerja cerdas”. Yang ada hanyalah menikmati pekerjaan. Menurutnya, kerja keras terkesan terpaksa dan penuh tekanan. Seorang pengusaha sejatinya tidak boleh merasa tertekan dalam setiap aktivitasnya. Salah satu caranya adalah dengan cara menikmatinya.
Pemikiran unik Bob Sadino lainnya adalah terkait masalah pasar. Banyak pakar berpendapat bahwa sebelum mulai berbisnis seorang pebisnis harus mencari dan menganalisis potensi pasarnya terlebih dahulu. Namun menurut Bob, pasar itu diciptakan, bukan dicari. Menciptakan pasar menjadikan perusahaan sebagai market leader (pemimpin pasar) bukan market follower (pengikut pasar). Lebih lanjut ia menjelaskan ada tiga langkah untuk menciptakan pasar, yaitu:
· Jadilah yang pertama
· Jadilah yang berbeda
· Jadilah yang terbaik
Pandangan berbeda lainnya dari Bob Sadino adalah tentang masalah bermitra dalam bisnis. Banyak pakar dan pengusaha yang mengatakan bahwa sekarang adalah era kolaboratif. Bekerja sama dengan orang lain akan membuat bisnis Anda lebih cepat bertumbuh dan berkembang. Tapi tidak begitu dengan Bob Sadino. Ia malah berpikiran bahwa bermitra dalam bisnis adalah sebuah bencana. Ujung-ujungnya pecah kongsi dan akanberjalan sendiri-sendiri. Hal ini ia sampaikan karena sebelumnya dia sudah pernah mengalaminya.
Pemikiran yang paling berbeda dan “dianggap” paling kontroversial dari seorang Bob Sadino adalah tentang sekolah. Bagi Bob Sadino; sekolah=racun. Ia menyampaikan pernyataan tersebut terkait konteks wirausaha. Menurutnya, sekolah menjadi penghambat seseorang untuk terjun menjadi seorang pengusaha. Sekolah membuat seseorang tidak berani bertindak bebas dan melakukan sesuatu. Sekolah membuat seseorang terlalu banyak berpikir dan berhitung namun tidak kunjung memulai karena bingung. “Apakah Anda sudah menikmati apa yang dilakukan selama ini? Kalau belum, berarti Anda hanya bekerja keras. Segera cari bidang lain yang Anda nikmati sehingga tidak perlu lagi mendapatkan cap pekerja keras, melainkan penikmat pekerjaan!”
Bob Sadino
Berbisnislah tanpa tujuan, rencana dan harapan
Masih banyak
pemikiran aneh lainnya yang ada pada diri Bob Sadino terkait bisnis. Salah
satunya ialah memilih untuk tidak mempunyai tujuan dalam berbisnis dan
membiarkan bisnisnya berjalan seperti air yang mengalir. Tentu hal ini
merupakan suatu hal yang tidak masuk akal, bahkan bagi orang awam sekalipun.
Namun begitulah Bob Sadino.
Ia mengatakan bahwa keberadaan tujuan hanya akan membelenggu orang pada satu titik saja dan tidak berusaha untuk mendapatkan hasil yang melebihi titik tersebut. Padahal setiap orang sangat berpotensi untuk memperoleh hasil lebih dari titik tersebut.
Pandangan Bob sadino yang kontroversial lainnya adalah tentang rencana. Menurutnya, rencana adalah bencana. Oleh karena itu, dia tidak memiliki rencana dalam bisnisnya karena baginya hidup ini sudah terencana dengan Tuhan sebagai Master Planner-nya. Ia berpendapat bahwa rencana itu linear, sementara hidup itu lateral. Sebagian besar orang mungkin tidak akan setuju dengan pendapat semacam itu.
Bob Sadino juga tidak memiliki mimpi dan harapan. Menurutnya, sebagian besar harapan tidak pernah terwujud, jadi tidak perlu berharap. Selain itu, berharap juga akan membuat orang kecewa dan menutup pilihan lain dalam memotivasi diri untuk menggapai sesuatu. Bagi para pengusaha Bob Sadino memberikan beberapa pesan bisnis. Pertama, bisnis itu tidak harus bermodalkan uang, namun modal intangible lebih penting . Apa saja modal intangible itu? Kemauan, komitmen, berani mengambil peluang, tahan banting dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, kosongkan diri sebelum belajar. Posisikan diri seperti sebuah gelas kosong yang siap menerima ilmu dari orang lain. Ketiga, jangan pernah pelit dalam berbagi ilmu. Dan keempat, carilah kegagalan sebanyak-banyaknya.
Dibalik setiap keanehan, terdapat pelajaran
Selama hidup, Bob sadino dikenal sebagai seorang pengusaha yang penuh keanehan. Mulai dari penampilan, perkataan dan juga pemikirannya. Dari segi penampilan, Bob sangat identik dengan kemeja putih dan juga celana jeans pendek. Pakaian ini digunakan tidak hanya ketika acara informal tetapi juga formal. Ia pernah mengenakan pakaian ini ketika bertemu dengan beberapa Presiden Indonesia yaitu Soeharto, BJ Habibie, Megawati dan terakhir dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun dibalik itu, ia menjelaskan bahwa celana pendek itu ia pakai untuk mensyukuri nikmat Tuhan berupa sinar matahari. Walaupun dikenal dengan perkataan yang ceplas ceplos dan terkesan kasar, namun ternyata Bob sadino adalah pribadi yang penyayang dan juga rendah hati. Sifat ini ditunjukkannya dalam kehidupan berkeluarga. Baginya, keluarga adalah segalanya. Ia sangat menjaga hubungannya dengan istri dan anak-anaknya.
Menurutnya, masalah dalam keluarga juga akan berdampak kepada urusan lain, termasuk bisnis. Jadi, dia sangat menjaga keharmonisan dalam keluarga. Ia pun menghargai setiap pendapat dalam keluarga. Ia tidak memaksakan pendapatnya kepada istri dan anak-anaknya. Bahkan, ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih dan memutuskan kehidupan mereka masing-masing. Ia hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Selebihnya, mereka yang menentukan. Demikianlah pemikiran dan tindakan Bob Sadino yang cenderung kontroversial, nyeleneh, serta keluar dari standar “kenormalan”. Ada banyak hal yang bisa ditiru oleh para pelaku bisnis lainnya, namun ada pula hal-hal yang cukup menjadi pengetahuan Anda.

