Rahasai Meraih
HUSNUL KHATIMAH
Penulis : Muhammad Khatib
Kehidupan ini bagi mereka yang berkeyakinan dan beragama akan mengalami penghujung alias kematian. Lalu setelah kematian itu ada kehidupan baru lagi yang tak semua orang mudah meyakini kehidupan pasca-kematian itu kecuali orang-orang yang beriman. Mereka yang mengimaninya dengan berbagai daya dan upaya selalu berusaha menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian itu. Namun terkadang kendala dalam menyiapkan bekal itu juga selalu mengiringinya. Berat, memang berat bekal yang harus diperoleh lalu dibawa sebagai cadangan untuk kelak.
Usaha berat itu sebenarnya sangat ringan dan mudah ketika dipikirkan. Begitu akan direngkuh, sulit bukan main. Itulah bekal yang penuh tantangan dan sarat makna di baliknya. Melihat kegelisahan yang dihadapi oleh mereka yang beriman, dalm buku tersebut mencoba untuk menemukan jalan menuju bekal itu untuk memudahkan agar bisa direngkuh. Bekal itu tak lain kebaikan. Kelak ketika akan mati yang bisa menemani kita dalam keadaan sakarat di penghujung kehidupan ini. Husnul Khatimah. Itulah yang diinginkan oleh umat manusia yang beriman dengan kematian.
Sebenarnya topik husnul khatimah ini sudah lumrah di kalangan masyarakat. Pada intinya jika ingin mati dengan husnul khatimah, berakhir dengan penuh kebaikan sangatlah mudah dan bagaikan membalikan telapak tangan, yaitu berbuat baik dalam berbagai dimensi kehidupan. Sementara yang menyulitkan untuk meraih husnul khatimah itu tak lain aplikasinya dalam kehidupan ini. Ketika akan berbuat baik terkadang kita berpikir seribu kali. Kalau kebaikan itu menguntungkan diri kita, pasti dilakukan. Tetapi kalau tak mendatangkan keuntungan bagi kita secara realistis, itu pun tidak dilakukan. Padahal secara tidak langsung sebuah kebaikan memberikan sinar kehidupan dan menguntungkan bagi pelakunya.
Untuk melakukan hal yang bernuansa baik terkadang umat manusia, utamanya umat Islam sendiri terlalu fanatik dengan sebuah dalil atau rujukan yang disyariatkan. Sehingga tak heran jika kehidupannya seakan selalu terkekang. Di sini kelemahan fanatisme terhadap sesuatu. Segalanya akan tersa membelenggu. Padahal agama merupakan memberi aturan yang cukup longgar dan tidak mengikat secara keras. Begitu pula dengan istilah zuhud masyarakat sering menganggap tak bekerja dan menghindari dari hal-hal yang berbau dunia/material.
Dalam hal menggapai husnul khatimah zuhud tak lain sebuah usaha untuk menggapai keterikatan hati dengan dunia secara berlebihan. Jika orang sudah melakukan kebaikan dan yang baik bagi orang lain, tanpa susah payah dunia/harta akan dengan sendirinya. Dengan harta itu kita bisa berbuat baik dengan bersedekah, zakat, dan bisa menunaikan ibadah haji. Zuhud bukan segalanya menghindar dari kekayaan, namun menjaga hati agar tidak rakus harta dunia sehingga apa yang didapat berupa harta kita mudah melakukan amal ibadah dengan harta yang kita peroleh di dunia untuk bekal di akhirat kelak
Sebenarnya banyak macam nasehat dan anjuran dalam meraih husnul khatimah, mati penuh dengan amal kebaikan. Buku ini juga mencoba untuk memberikan gambaran tanda-tanda husnul khatimah dan menyajikan bahasan yang mirip dengan buku-buku literatur lainnya. Namun ulasan di sini merupakan lebih ringan dan santai dibaca sehingga pembaca mudah menemukan titik terangnya. Eksistensi husnul khatimah tak jauh dari perilaku yang kita kerjakan sehari-hari. Berbuat baik dan sebanyak mungkin melakukan sifat dan perilaku yang terpuji, baik bagi diri sendiri atu orang lain. Karena sejatinya berbuat baik bagi orang lain tak lain merupakan cerminan berbuat baik bagi diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar