Penulis: Marie Kondo
Penerbit: Bentang Pustaka
Anda punya baju-baju yang sudah tidak dipakai dalam setahun terakhir? Buku-buku yang tidak terbaca? Alat masak yang lama tidak disentuh? Makanan kedaluwarsa? Onggokan majalah dan koran? Tumpukan kertas entah apa? Botol sampo, sabun, dan produk perawatan tubuh lain yang seakan tidak habis-habis? Ceceran pernak-pernik? Kabel-kabel misterius bekas entah yang mana?.
Tahan jawaban Anda. Pelajari dulu reaksi internal yang terjadi. Mungkin sebagian dari kita tanpa ragu berteriak “YA!” untuk semua pertanyaan di atas. Mungkin sebagian dari kita masih enggan menjawab dan segera mencari pembenaran atas kehadiran barang-barang yang kita miliki, baik yang disadari maupun tidak (“semuanya terpakai, kok”, “semua ada gunanya”, “nggak mungkin dibuang. Buku ini bukan hanya berbicara soal seni beres-beres. Pada level yang lebih dalam, buku ini berbicara tentang awareness akan kepemilikan, dan apa yang harus kita lakukan untuk kembali punya kendali.
Marie Kondo, atau KonMari, memang sesosok pribadi yang tidak biasa. Sejak kecil, ia terobsesi dengan rapi-rapi. Ia merapikan kelas, merapikan rumah, merapikan barang-barang setiap anggota keluarganya. Dengan tekun ia mempelajari dan mencoba berbagai teknik mendekorasi serta metode penyimpanan di luar sana. Tiada ada hari terlewat tanpa berbenah atau memikirkan tentang berbenah.
Buku ini akan menuntun kita untuk berbenah dengan urutan spesifik. Buku ini juga mengajarkan bagaimana cara menyimpan baju paling efektif dan cara memperlakukan kaus kaki kita dengan benar. Buku ini akan memberikan inspirasi sekaligus keberanian untuk menghadapi setiap sudut tak tertata, baik itu di kamar, tempat kerja, atau seisi rumah. Namun, buku ini pun mengusik kita untuk merenungkan relasi manusia dengan barang. Buku ini mengajak kita menata ulang dinamika dengan benda mati pada tingkat emosional, bahkan spiritual. Suatu hari, pada puncak frustrasinya karena merasa terus menerus gagal merapikan tempat tinggalnya sendiri, Marie terkapar, marah dan lelah. Saat ia terbangun, secercah ilham menghampirinya. Momen yang barangkali menyerupai epifani. Marie menyadari satu keping yang luput. Selama ini, ia begitu fokus kepada menyingkirkan barang hingga ia mengabaikan sisi lain.
“Kita semestinya memilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan.”“Agar bisa sepenuh hati mensyukuri hal-hal yang paling penting bagi Anda, pertama-tama Anda harus membuang barang-barang yang sudah tidak bermanfaat.”
Untuk itu, ia mengajak para kliennya merasakan ke dalam, perasaan apa yang ditimbulkan ketika mereka memegang barang tertentu? Jika barang itu sudah tidak lagi menimbulkan rasa bahagia, maka lepaskanlah. Tak lupa, Marie juga mengajak para kliennya untuk berterima kasih kepada barang-barang yang mereka lepaskan.
“Semua yang Anda miliki ingin bermanfaat bagi Anda. Kalaupun Anda membuang atau membakarnya, hanya jejak ‘ingin berjasa’ yang ingin ditinggalkannya.”
Dengan mempertemukan para kliennya kepada setiap benda di rumah mereka, sebuah elemen baru terpicu hadir di dalam dinamika para klien itu dengan benda yang mereka miliki. Kesadaran.
Berapa kali kita membeli sesuatu hanya untuk kemudian melupakannya beberapa hari kemudian? Berapa banyak tumpukan barang yang akhirnya berubah “transparan” di mata kita? Kita tahu barang-barang itu ada, tapi kita tidak lagi melihatnya. Kita bahkan tak tahu kita punya benda apa saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar