Sabtu, 03 Juli 2021


 Logika Agama

oleh : M. Quraish Shihab
        Buku ini merekam gejolak pemikiran M Quraish Shihab muda ketika menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di dalamnya berbicara tentang perubahan dan evolusi, Islam dan akal serta jalan pencerahan batin. Buku tersebut sangat menarik dengan bentuk tanya jawab. Buku yang dikatakan kecil oleh penulis ini mempunyai kesan tersendiri di hati penulis. Ia berasal dari salah satu karya yang penulis susun dan dinamai al-Khawāthir, yaitu Lintasan Pikiran.
           kandungan buku ini masih sangat relevan pada masa kini karena perubahan melanda seluruh dunia dengan membawa nilai-nilai baru dan menjungkirbalikkan banyak nilai lama. 

Perubahan dan Evolusi

Pada bab ini merefleksikan terkait perubahan seiring tuntutan zaman yang tidak sedikit orang menuntutnya, termasuk pada nilai-nilai dasar agama. Tidak dibenarkan oleh gurunya ketika penulis menyebut istilah ‘Islam berkembang’. Sebelumnya, ada dua istilah yang memang sangat populer ketika berbicara tentang Islam dari sudut pandang kelenturan dan universalitasnya, yaitu al-Islam Mutathawwir (Islam berkembang) dan al-Islam Shalih li Kulli Zaman wa Makan (Islam relevan di setiap masa dan tempat). Disini guru penulis menegaskan bahwa kedua hal tersebut berbeda. Kesesuaian ajaran islam untuk setiap waktu dan tempat bukanlah berarti bahwa Islam berkembang. Islam tidak akan pernah mengalami evolusi sedikitpun.

Sebagaimana yang telah diketahui, Islam terbangun atas tiga hal; akidah, syariah dan akhlak. Konsepsi dan gambaran konkret teori “berkembangnya Islam” tergambar dalam beberapa contoh. Misal dalam bidang syariah, mengenai minuman keras yang dahulu terlarang dan merupakan simbol kebiadaban. Seiring kehidupan semakin maju, syariah pun berkembang sehingga hal tersebut ‘dianggap’ menjadi suatu keharusan dan simbol kejantanan. Sangat disayangkan apabila orang pada akhirnya berkesimpulan demikian.

Bukan Islam yang berkembang, tetapi pemahaman terhadap rincian ajaran Islam yang berkembang. Pemahaman terhadap rinciannya, bukan pada prinsip-prinsip yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah. Untuk memperkuat, guru penulis mengkiaskan dengan perubahan yang terjadi pada manusia bersifat material, bukan pada sifat bawaannya. Dapat dipastikan, hampir semua manusia membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Hal tersebut tidak berubah meskipun makanan dan cara memasaknya berbeda; tempat tinggal, model dan bahan pembuatannya berbeda-beda dari satu masa ke masa yang lain.[1]

Melanjutkan pembahasan, penulis menanyakan kepada gurunya seputar “Agama dan Teori Evolusi Darwin”. Guru beliau menyatakan bahwa dalam Islam tidak memiliki argumentasi yang menafikan teori tersebut, dan di sisi lain tidak boleh terburu-buru memutuskan benar-tidaknya suatu teori yang masih dalam proses pengkajian. Berapa banyak teori yang pernah populer lalu tidak lama kemudian tiba masa membuktikan ketidak-absahannya.

Islam dan Akal

Penulis kembali berbincang bersama gurunya dengan beralih pada tema yang tak kalah menarik. Penulis berbicara tentang hubungan agama dengan akal. Mendudukkan persoalan tersebut hari ini penting karena penggunaan rasio dan pengaguman terhadap akal demikian besar sehingga bukan hanya terjadi desakralisasi, tetapi juga melampauinya sehingga muncul despiritualisasi yang mengingkari.

Islam sering disebut sebagai agama rasional, bahkan diserukan bahwa “tidak ada dogma dalam ajaran Islam”. Hal tersebut menuai banyak pemahaman. Apabila yang dimaksud dogma adalah keyakinan keagamaan yang harus diterima walau tidak dimengerti oleh akal, maka hal ini benar. Tetapi kalau maksudnya adalah adanya tuntutan Islam yang bertentangan dengan akal, ini tidak benar.

Dalam Islam terdapat permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami oleh akal kita. Argumentasi logis apapun yang mendukungnya, tetap tidak akan dapat memberikan jawaban yang memuaskan.[3] Akal memiliki wilayah yang terbatas pada alam fisika, sedang agama berbicara alam metafisika. Namun demikian ajaran Islam selalu sesuai dengan akal menyangkut hal-hal yang berada pada wilayah akal dan yang Allah beri potensi untuk mengetahuinya. Ajaran Islam tidak bertentangan dengan akal menyangkut hal-hal yang tidak terungkap secara jelas rincian serta sebab-sebabnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Politik Untuk Kemanusiaan BAGIAN I Politik adalah ‘Cinta,’ iya cinta, karena cinta mengambil segalanya, karena cinta melupakan segalanya, ka...